Lockheed Martin mengungkap keberadaan dan rincian rudal udara-ke-udara AIM-260 Joint Advanced Tactical Missile (JATM), senjata yang dikembangkan Amerika Serikat (AS) untuk menghadapi kemampuan udara jarak jauh China. Pengungkapan itu disertai kesepakatan baru dengan Departemen Pertahanan AS atau Pentagon untuk mempercepat produksi rudal tersebut.
Menurut laporan Reuters yang dikutip pada Jumat (18/9/2026), program AIM-260 selama bertahun-tahun dijalankan secara sangat rahasia. Rudal ini dirancang ketika militer AS berupaya merespons perkembangan ancaman udara China sekaligus memulihkan persediaan amunisi setelah serangan AS ke Iran.
Disiapkan untuk F-22 dan F-35
Lockheed Martin menyatakan AIM-260 memiliki jangkauan dan efektivitas tempur yang lebih besar dibandingkan rudal udara-ke-udara yang saat ini tersedia. Kemampuan tersebut dipandang penting dalam menghadapi jet tempur China, termasuk J-20.
Rudal JATM direncanakan menjadi bagian dari persenjataan dua jet tempur siluman utama AS, yakni F-22 Raptor dan F-35. Namun, sejumlah detail teknis mengenai rudal itu masih belum dipublikasikan.
Tim Cahill, Presiden Kendali Tembakan dan Rudal Lockheed Martin, menyebut JATM sebagai salah satu kemampuan paling penting bagi dominasi udara AS. Ia mengatakan sifat rahasia program tersebut selama ini membatasi informasi yang dapat disampaikan kepada publik.
“JATM adalah salah satu kemampuan dominasi udara terpenting bangsa kita, tetapi karena sifat rahasia dari program ini, ini juga merupakan cerita yang belum dapat kami ceritakan,” kata Cahill.
Ia juga menyampaikan kebanggaan karena Lockheed Martin kini dapat mengungkap pekerjaan di balik pengembangan rudal tersebut serta kerja sama perusahaan dengan pemerintah AS untuk meningkatkan produksinya.
“Kami bangga akhirnya dapat berbicara tentang pekerjaan luar biasa di balik rudal ini dan bagaimana kami bekerja sama dengan pemerintah AS untuk meningkatkan produksi secara cepat,” ujar Cahill.
Australia Siapkan Pembelian
Keberadaan AIM-260 pertama kali terlihat pada Mei 2026. Setelah itu, Australia mengumumkan komitmen untuk membeli rudal JATM dengan nilai sekitar US$521 juta atau setara Rp9,16 triliun.
Meski nilai komitmen tersebut telah diumumkan, jumlah rudal yang akan dibeli Australia dan harga satuannya masih dirahasiakan. Informasi itu belum disertakan dalam pengumuman mengenai rencana pengadaan tersebut.
Kerangka Produksi Jangka Panjang
Kesepakatan terbaru antara Lockheed Martin dan Pentagon menjadi landasan hukum untuk kontrak pengadaan selama beberapa tahun. Kerangka kerja itu ditujukan untuk memperkuat basis industri pertahanan yang mendukung program JATM.
Lockheed Martin memastikan akan membiayai investasi yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas produksi rudal tersebut berdasarkan kesepakatan baru itu. Langkah tersebut dilakukan saat militer AS berusaha memperbesar kembali persediaan senjatanya.
