Superhero Nusantara Meta Panji Tantang Dominasi Manga Global

by -30 Views

Indonesia tidak kekurangan bahan untuk melahirkan karakter budaya populer. Cerita Panji, misalnya, telah hidup selama berabad-abad, berkembang di Jawa dan menyebar ke sejumlah wilayah Asia Tenggara. Namun, kekayaan sejarah itu belum otomatis membuat Panji hadir sebagai karakter yang dekat dengan generasi digital.

Gagasan tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan Meta Panji, upaya membawa dunia dan tokoh Panji ke dalam cara bercerita yang lebih sesuai dengan kebiasaan audiens masa kini. Penulis novel Meta Panji, Reno Halsamer, menilai pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan menyimpan artefak atau mendokumentasikan kisah lama.

Reno, yang juga dikenal sebagai budayawan, pegiat museum, Founder D’Topeng Kingdom Group (DKG) Foundation, dan Minilemon Studio, mengatakan warisan budaya harus tetap mampu berkomunikasi dengan generasi yang berbeda.

“Kita memiliki begitu banyak cerita dan karakter dari Nusantara. Persoalannya, bagaimana cerita itu bisa kembali menjadi bagian dari kehidupan generasi sekarang, bukan hanya menjadi sesuatu yang mereka dengar ketika belajar sejarah,” ujar Reno, Rabu (30/9/2026).

Panji bukan sekadar desain karakter

Menurut Reno, tantangan Indonesia bukan terletak pada minimnya cerita. Nusantara memiliki ribuan narasi, tetapi tidak semuanya berhasil dikembangkan menjadi karakter yang dicintai, diikuti, dan memiliki ekosistem penggemar.

“Kita tidak kekurangan cerita. Kita punya ribuan cerita. Tetapi pertanyaannya, apakah kita mampu membuat karakter-karakter itu hidup kembali dan dicintai oleh generasi muda?” katanya.

Ia menegaskan, memindahkan Panji ke ruang digital bukan sekadar memperbarui tampilan atau kostum tokoh lama. Pengembangan karakter membutuhkan dunia cerita yang utuh, termasuk identitas, latar, konflik, hubungan antartokoh, serta nilai yang membuat audiens tertarik mengikuti perjalanannya.

“Kalau kita bicara karakter, kita tidak hanya bicara wajah atau kostumnya. Kita bicara tentang siapa dia, dunianya seperti apa, nilai yang dibawanya, konfliknya apa, dan mengapa orang ingin mengikuti perjalanannya,” jelas Reno.

Panji memiliki modal sejarah yang panjang. Kisah tersebut hadir dalam beragam versi dan medium seni di Nusantara serta Asia Tenggara. Naskah-naskah Panji juga mendapat pengakuan UNESCO sebagai Memory of the World pada 2017. Meski demikian, pengakuan historis tidak dengan sendirinya menjadikan Panji ikon budaya populer.

Memodernisasi cara penyampaian

Generasi muda kini berkenalan dengan karakter melalui film, serial, animasi, komik, gim, media sosial, fan art, dan komunitas digital. Karena itu, Reno memandang pelestarian budaya perlu mengikuti perubahan cara orang menikmati cerita.

“Anak-anak sekarang mengenal karakter bukan hanya dari buku. Mereka bisa mengenalnya dari film, gim, animasi, komik, bahkan dari media sosial. Maka, kalau kita ingin cerita Nusantara tetap hidup, kita juga harus memahami bahasa komunikasi generasi mereka,” ujarnya.

Dalam pendekatan Meta Panji, yang dimodernisasi adalah cara penyampaian, bukan akar budayanya. Reno mengakui proses tersebut memerlukan keseimbangan antara riset budaya dan kreativitas, karena adaptasi ke medium modern dapat memengaruhi visual, interpretasi, dan cara bercerita.

Ketika ditanya apakah Panji dapat menandingi karakter superhero global, Reno tidak melihatnya sebagai persaingan langsung dengan Marvel atau karakter dari luar negeri. Menurut dia, Panji harus berkembang dengan identitasnya sendiri.

“Jangan berpikir bahwa kita harus membuat Panji menjadi seperti karakter dari luar. Panji harus tetap menjadi Panji. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana membuat Panji bisa dipahami, disukai, dan relevan bagi generasi sekarang,” kata Reno.

Ia menilai karakter tidak akan menjadi fenomena budaya tanpa dukungan ekosistem kreatif yang melibatkan kreator, pembaca, penonton, serta komunitas. Latar belakangnya sebagai pegiat museum juga memperkuat pandangan bahwa benda budaya tidak cukup hanya disimpan dan dipamerkan.

“Benda budaya tidak cukup hanya kita simpan. Kita harus membuat generasi berikutnya punya alasan untuk datang, melihat, bertanya, kemudian merasa bahwa warisan itu juga bagian dari mereka,” ujarnya.

Bagi Reno, Panji dapat menjadi pintu masuk untuk mengembangkan tokoh dan cerita Nusantara lainnya. Pekerjaan berikutnya mencakup riset, pembangunan karakter dan dunia cerita, pengembangan medium, hingga pembentukan komunitas agar karakter tersebut memiliki kehidupan yang panjang.

“Panji ini salah satu contoh. Setelah itu, kita bisa melihat begitu banyak karakter dan cerita Nusantara lainnya. Pertanyaannya, apakah kita mau mengembangkan semuanya secara serius?” kata Reno.

Source link