Prekuel 5cm: Revolusi Hati, Petualangan Bahari Tanpa CGI

by -35 Views

Film 5cm: Revolusi Hati akan membawa penonton meninggalkan lanskap pegunungan dan menyelami petualangan di lautan lepas. Soraya Intercine Films mengumumkan produksi prekuel 5cm dalam acara di kantor mereka, Jakarta Pusat, Selasa (22/9/2026).

Film pertama yang dirilis sekitar 14 tahun lalu dikenal luas setelah memicu tren pendakian Gunung Semeru di kalangan anak muda. Untuk proyek terbaru ini, produser Sunil Soraya dan sutradara Emil Heradi memilih pendekatan visual yang berbeda dengan menempatkan ekosistem bawah laut serta kawasan di atas permukaan laut sebagai bagian penting dari cerita.

Lokasi dirahasiakan, fokus pada alam Indonesia

Hingga pengumuman produksi dilakukan, lokasi syuting belum diungkapkan kepada publik. Sunil mengatakan, pemilihannya tidak didasarkan pada tren pariwisata, melainkan kebutuhan narasi dan keinginan untuk menampilkan sisi lain dari alam Indonesia.

“Cerita 5cm itu selalu ada unsur Indonesia, unsur alam, dan unsur persahabatan. Nah ini lokasinya yang dipilih masih rahasia sekarang… Tapi memang tempat-tempatnya baru, belum terlalu dijelajahi mungkin ya. Memang kita mencari ekosistem underwater dan ekosistem di atasnya segala macam. Ini yang paling cocok,” ujar Sunil.

Eksplorasi di laut juga menghadirkan tantangan produksi yang berbeda dari film sebelumnya. Pengambilan adegan badai, khususnya, menuntut kesiapan fisik, teknis, dan logistik yang lebih kompleks. Untuk menjaga adegan tetap realistis sekaligus aman bagi pemain, tim produksi tidak sepenuhnya mengandalkan teknologi Computer-Generated Imagery atau CGI.

Mereka menggabungkan pengambilan gambar di laut, pembangunan water tank berukuran besar, serta penggunaan sistem hidrolik untuk menghasilkan ombak buatan. CGI hanya digunakan untuk melengkapi elemen yang tidak dapat diwujudkan melalui pengambilan gambar langsung.

“Kita sama Mas Emil mungkin merasa bahwa kita nggak terlalu suka CGI gitu. Jadi apa yang kita buat adalah tiga kombinasi. pertama kita syuting laut, kedua kita bangun water tank dengan sistem hidrolik untuk ombak. CGI-nya hanya untuk menambah hal-hal yang waktu itu tidak bisa dicapai dengan manual,” jelas Sunil.

Pemain muda menjalani persiapan panjang

Jajaran pemain muda yang terlibat telah menjalani proses reading intensif selama tujuh hingga delapan bulan. Persiapan tersebut berlangsung di tengah munculnya pro dan kontra di media sosial sebelum proyek diumumkan secara resmi.

Rachel Aseelah, pemeran Azizah, mengaku sempat terlalu banyak berpikir mengenai respons publik. Namun, kesibukan selama proses syuting dan suasana kerja yang menyenangkan membuatnya dapat mengalihkan perhatian dari tekanan tersebut.

“Aku awalnya sempat overthinking. cuman kan aku orang yang nggak terlalu baca medsos banget. Abis itu karena syutingnya sibuk banget, jadi nggak kepikiran juga. Dan syutingnya juga seru, akunya juga enjoy. Temen-temennya juga seru, kru-nya semua baik,” ungkap Rachel.

Tanggung jawab besar juga berada di pundak Roman King yang memerankan Zafran versi muda. Karakter tersebut sebelumnya dikenal melalui penampilan Herjunot Ali. Roman mengatakan, Sunil memberinya ruang untuk membangun tafsiran sendiri mengenai sosok Zafran dalam fase sebelum cerita film pertama.

“Aku ngerti di film lima senti pertama itu karakternya Zafran. Aku respect ke karakter yang sebelumnya di film. Cuma pas mulai proses reading sama semua itu, Pak Sunil selalu bilang, kan ini prequel, jadi kemungkinan cari sendiri Zafran kamu kayak gimana dan bagaimana cara Zafran yang ini bisa jadi Zafran yang film pertama,” tutur Roman.

Selain konsep petualangan bahari, produksi film ini juga menyiapkan jajaran soundtrack dengan konsep baru. Detail mengenai musik pengiring tersebut akan diumumkan pada waktu mendatang.

Source link