Negara Kacau Balau, Perang Saudara di Depan Mata?

by -54 Views

Perang saudara kembali membayangi Ethiopia setelah pasukan dari wilayah Tigray menyerang sejumlah wilayah di Afar dan Amhara, sementara tujuh kelompok bersenjata membentuk aliansi untuk menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri Abiy Ahmed. Perkembangan ini mengancam kesepakatan damai Pretoria 2022 yang sebelumnya mengakhiri perang besar antara pemerintah Ethiopia dan Tigray People’s Liberation Front (TPLF).

Aliansi bernama Ethiopian Peoples’ Forces Alliance for Survival itu diumumkan pada Minggu (20/9/2026). TPLF termasuk di antara kelompok yang bergabung. Pembentukan aliansi tersebut menandai perubahan peta kekuatan dibandingkan perang 2020-2022, ketika Eritrea dan kelompok Fano justru berperang bersama pemerintah Ethiopia melawan pasukan Tigray.

Pertempuran meluas ke Afar dan Amhara

Pada Rabu (23/9/2026), TPLF merebut kendali atas tiga bandara dari polisi federal. Ethiopian Airlines kemudian menghentikan penerbangan ke wilayah tersebut dengan alasan “situasi yang sedang berlangsung”. Penerbangan menuju Lalibela, kota bersejarah Ethiopia, juga dihentikan pada Kamis (24/9/2026) setelah pertempuran terjadi di sekitarnya.

Serangan juga berlangsung di Afar. Sumber kemanusiaan di wilayah itu mengatakan kepada AFP bahwa pasukan TPLF melancarkan serangan artileri berat ketika berupaya merebut Kota Yallo, yang berada tidak jauh dari perbatasan Tigray. Sumber keamanan asing yang berbasis di Ethiopia menyebut TPLF telah menguasai Abala, kota di perbatasan Tigray-Afar, pada Rabu. Sumber dari TPLF juga mengklaim telah merebut beberapa kota lain di Afar.

Pertempuran dilaporkan terjadi di sekitar Weldiya, Amhara. Kota tersebut berada di salah satu dari sedikit jalur yang dapat digunakan untuk menuju ibu kota Ethiopia, Addis Ababa.

Wakil Presiden TPLF Amanuel Assefa menyatakan bentrokan telah berkembang menjadi konflik terbuka. “Kami sekarang berada dalam situasi perang besar-besaran,” katanya kepada AFP. Ia juga membenarkan bahwa pasukan Tigray bertempur bersama kelompok-kelompok bersenjata lokal di Afar dan Amhara.

Militer Ethiopia untuk pertama kalinya memberikan keterangan terbuka mengenai pertempuran itu pada Kamis. Angkatan bersenjata Ethiopia mengklaim telah menggagalkan serangan dan membunuh, melukai, atau menangkap lebih dari 500 pejuang lawan.

Warga mulai menimbun makanan dan uang tunai

Di Tigray, warga mulai menimbun bahan makanan dan uang tunai karena khawatir wilayah tersebut kembali terkepung seperti pada perang sebelumnya. Kondisi serupa dilaporkan dari Adigrat, kota yang berada dekat perbatasan Eritrea.

Seorang warga mengatakan kepada Reuters bahwa masyarakat membeli kebutuhan pokok secara panik hingga rak-rak toko mulai kosong. “Kelangkaan makanan semakin memburuk karena rak-rak pasar kosong … Obat-obatan penting tetap langka dan harganya sangat mahal,” ujarnya. “Bertahan hidup setiap hari telah menjadi perhitungan yang terus-menerus.”

Perang 2020-2022 menewaskan sekitar 600.000 orang. Saat itu, Tigray sebagian besar terputus dari dunia luar setelah jaringan komunikasi diputus. Akses terhadap makanan, uang tunai, dan obat-obatan juga sangat terbatas, sehingga ratusan ribu warga menghadapi kondisi kemanusiaan yang berat.

Tuduhan dukungan Eritrea dan seruan deeskalasi

Sejumlah analis menilai TPLF memperoleh dukungan dari Eritrea, negara tetangga sekaligus rival lama Ethiopia. Eritrea disebut khawatir Ethiopia sedang merencanakan invasi untuk mendapatkan akses ke Laut Merah, meski Ethiopia tidak memiliki akses langsung ke laut.

Assefa mengatakan TPLF tidak mengetahui rencana Eritrea. “Kami tidak memiliki informasi mengenai rencana Eritrea,” ujarnya kepada AFP. Ketika ditanya apakah TPLF akan meminta campur tangan Eritrea, ia menjawab, “Belum.” Juru bicara Abiy, Billene Seyoum, menuduh anggota aliansi baru telah bekerja sama selama beberapa waktu dengan dukungan pendanaan dari Eritrea. Pemerintah Eritrea berulang kali membantah tuduhan tersebut.

Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada Rabu, Presiden Ethiopia Taye Atske-Selassie Amde mengecam “kekuatan penghancuran dan kekacauan” serta “campur tangan dalam urusan dalam negeri kami oleh pihak-pihak yang bermusuhan”. Ia menyatakan Ethiopia telah menunjukkan “pengendalian diri yang luar biasa” dan mencatat kemajuan dalam hubungan dengan negara-negara tetangga.

Ketua Uni Afrika Mahmoud Ali Youssouf menyerukan “pengendalian diri semaksimal mungkin” dan meminta perundingan langsung dilanjutkan. Uni Eropa juga mendesak “deeskalasi segera” serta kembalinya komitmen terhadap kesepakatan Pretoria.

Source link