Perang Saudara Menggila di Tanah Arab, 100 Ribu Warga Mengungsi

by -56 Views

Lebih dari 100.000 orang telah mengungsi akibat meningkatnya pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan yang loyal kepada pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Gelombang pengungsian itu terutama terjadi di sepanjang pantai barat negara tersebut, sementara ribuan warga lainnya menyeberangi Selat Bab al-Mandeb menuju Djibouti untuk mencari keselamatan.

Badan Pengungsi PBB (UNHCR) menyampaikan kondisi tersebut dalam pernyataan pada Selasa, sebagaimana dikutip Al Jazeera, Rabu (16/9/2026). Lembaga itu memperingatkan, eskalasi kekerasan berisiko memperluas krisis kemanusiaan di tengah keterbatasan sumber daya masyarakat yang menjadi tempat penampungan para pengungsi.

Kebutuhan mendesak dan ancaman bagi pengungsi

UNHCR membutuhkan dana tambahan sebesar US$14 juta atau sekitar Rp246,4 miliar. Dana itu akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak keluarga yang mengungsi di Yaman serta memberikan dukungan kepada warga yang tiba di Djibouti.

Menurut UNHCR, banyak keluarga meninggalkan rumah dalam waktu singkat dan hanya membawa sedikit barang. Tempat tinggal, makanan, air bersih, layanan kesehatan, serta perlindungan menjadi kebutuhan utama seiring semakin padatnya lokasi pengungsian dan komunitas penerima.

Konflik tersebut juga mengancam lebih dari 65.000 pengungsi dan pencari suaka yang telah terdaftar di Yaman. Sebagian besar dari mereka berasal dari Somalia dan Ethiopia. Mereka kini menghadapi risiko akibat pertempuran, meski bukan bagian dari pihak-pihak yang bertikai.

Eskalasi besar ini bermula setelah milisi Houthi yang bersekutu dengan Iran melakukan pergerakan cepat dan mengambil kendali atas seluruh garis pantai Laut Merah Yaman. Langkah itu dilakukan untuk memperkuat pengaruh mereka di sekitar Bab al-Mandeb, selat strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Bab al-Mandeb juga disebut menjadi jalur pelayaran alternatif setelah perang Amerika Serikat melawan Iran mencekik jalur pengiriman utama di Selat Hormuz.

Ribuan orang menyeberangi Bab al-Mandeb

Dalam empat hari terakhir, lebih dari 2.400 orang dilaporkan menempuh perjalanan laut melintasi Bab al-Mandeb. Mayoritas mereka adalah perempuan, anak-anak, dan lanjut usia.

Perwakilan UNHCR di Djibouti, Sandrine Desamours, mengatakan para pengungsi tiba setelah melalui perjalanan laut yang sulit. Banyak di antara mereka berada dalam kondisi kelelahan dan tekanan, dengan hanya sedikit barang yang berhasil dibawa.

“Orang-orang tiba setelah perjalanan laut yang sulit, banyak yang kelelahan, tertekan, dan membawa sedikit barang yang bisa mereka bawa,” kata Desamours.

Dampak pertempuran juga dirasakan Aisha Muhammad, seorang perempuan yang mengungsi setelah serangan Houthi terjadi di sebuah desa dekat kota pelabuhan Mocha pada pekan lalu. Ia terpaksa meninggalkan lima anaknya yang masih berada di desa tersebut.

“Mereka diblokir dan ditembaki, sehingga mereka terjebak di dalam rumah. Mereka hanya memasak nasi, tidak ada roti, tidak ada yang lain. Putri-putri saya menelepon saya mengatakan bahwa mereka ingin bergabung dengan kami, tetapi itu sudah menjadi terlalu sulit,” ujar Aisha.

Hussein Haydara, pengungsi dari Hodeidah, juga menceritakan pelariannya bersama keluarga ketika mortir dan peluru mulai berjatuhan. “Anda nyaris tidak bisa membawa anak-anak dan sedikit barang kebutuhan pokok bersama Anda. Kami sangat ketakutan oleh tembakan artileri dan penembak jitu, dan Anda hanya lari secepat yang Anda bisa karena takut akan keselamatan anak-anak dan keluarga Anda,” tuturnya.

Source link