Perjalanan di jalan-jalan Afrika tidak hanya sekadar urusan jarak dan waktu tempuh, tetapi juga menyangkut keselamatan. Benua ini dikenal sebagai titik panas kecelakaan lalu lintas global, dengan jumlah korban jiwa akibat kecelakaan di Afrika mencapai seperempat dari total korban di seluruh dunia, meskipun jumlah kendaraan di benua ini hanya kurang dari 4% dari total kendaraan dunia. Situasi paling mengkhawatirkan terjadi di Afrika sub-Sahara, dimana tingkat kematian akibat kecelakaan jalan mencapai 27 orang per 100.000 penduduk, tiga kali lipat lebih tinggi dari rata-rata Eropa dan jauh di atas rata-rata global.
Infrastruktur jalan yang buruk turut memperparah masalah keselamatan di Afrika. Meski investasi pembangunan jalan meningkat, kualitas jalan di banyak negara Afrika masih rendah, seperti tercermin dalam survei Forum Ekonomi Dunia dan peringkat kualitas jalan lintas negara dari IMF. Namun, selain faktor jalan buruk dan kecelakaan, ketersediaan toilet juga merupakan hal penting yang sering luput dari sorotan. Keterbatasan fasilitas toilet bagi pengemudi dapat mengancam keselamatan mereka, karena kebutuhan mendesak untuk buang air dapat mengganggu fokus dan kewaspadaan saat berkendara.
Sebuah penelitian dari Universitas Oxford menyoroti bahwa mengemudi sambil ingin buang air memiliki potensi bahaya yang setara dengan mengemudi dalam keadaan mabuk atau lelah. Menahan keinginan buang air dapat menurunkan fokus, memperlambat reaksi, dan berdampak pada penilaian yang buruk dalam situasi berbahaya. Oleh karena itu, akses toilet yang memadai seharusnya menjadi bagian dari strategi keselamatan jalan di Afrika. Inisiatif swasta dan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan ketersediaan toilet umum di jalan raya dan kota-kota besar penting untuk mendukung keselamatan pengemudi dan penumpang di Afrika.
