**UB Kenalkan Hamid Rusdi, Bapak Boso Walikan, di Museum Brawijaya**

by -57 Views

Universitas Brawijaya (UB) berkolaborasi dengan ekosistem DIPA Media Art untuk mengaktifkan kembali Museum Brawijaya, Kota Malang, melalui pendekatan seni berbasis media. Kegiatan yang berlangsung Selasa (22/9/2026) itu sekaligus mengangkat kembali sosok pejuang Malang, Hamid Rusdi, yang dinilai belum banyak dikenal masyarakat saat ini.

Aktivasi tersebut dirancang agar museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan berbagai jejak sejarah. Melalui media art, Museum Brawijaya diharapkan dapat menjadi ruang edukasi yang menyampaikan kisah perjuangan secara lebih dekat dan mudah diterima masyarakat.

Kasubdit Globalizing UB, Widhi Yahya, mengatakan kerja sama itu merupakan upaya menghidupkan kembali museum yang selama ini telah menjadi salah satu ikon Kota Malang.

“Harapannya dari kerja sama ini bisa mengaktivasi kembali museum yang sudah melegenda di Kota Malang dengan media art,” ujarnya.

Hamid Rusdi dan jejak Bahasa Walikan

Direktur Medcom UB, Dr. Redy Eko Prasetyo, S.Psi., M.I.Kom., menjelaskan Hamid Rusdi dipilih karena memiliki kontribusi besar bagi Malang pada masa kemerdekaan. Namun, kiprahnya dinilai belum cukup dikenal oleh masyarakat masa kini.

Melalui karya media art, kisah perjuangan dan nilai-nilai yang diwariskan Hamid Rusdi akan disusun dalam narasi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Redy menyebut pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkenalkan kembali kontribusi Hamid Rusdi secara lebih luas.

“Hamid Rusdi ini memiliki banyak kontribusi untuk Malang, melalui media art ini kami menarasikan kontribusi beliau supaya masyarakat mengetahuinya,” kata Redy.

Salah satu warisan budaya yang dikaitkan dengan Hamid Rusdi ialah Bahasa Walikan atau Boso Walikan. Menurut Redy, bahasa tersebut pada awalnya digunakan sebagai bahasa sandi dalam perjuangan melawan penjajahan sebelum berkembang menjadi identitas kultural masyarakat Malang.

“Kalau kami menyebutnya ‘Bapak Sandi’, Bapak Sandi dari Bahasa Malang, dengan istilah Bahasa Walikan,” ujarnya.

Pengembangan narasi tentang Hamid Rusdi melibatkan sejumlah pihak, antara lain keluarga Hamid Rusdi, komunitas, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah. Keterlibatan berbagai elemen itu menjadi bagian dari upaya menyusun penyampaian sejarah yang tidak hanya bertumpu pada satu sudut pandang.

Media art sebagai sarana edukasi

Festival Director DIPA Media Art, Danar Tri Yudistira, mengatakan gagasan tersebut turut merespons aspirasi keluarga Hamid Rusdi dan sejumlah tokoh masyarakat yang ingin mengangkat kembali kiprah tokoh tersebut.

Menurut Danar, media art dapat digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan narasi sejarah dengan pendekatan kreatif. Karena itu, kegiatan di Museum Brawijaya tidak diarahkan semata-mata untuk menghadirkan pengalaman estetika, tetapi juga membawa pesan edukasi bagi pengunjung.

“Kita mencoba bagaimana caranya menggunakan media art sebagai platform atau kendaraan untuk mengkampanyekan ini,” jelas Danar.

Aktivasi museum tersebut diharapkan menghadirkan daya tarik baru bagi masyarakat sekaligus mendorong peningkatan kunjungan. Eksplorasi melalui media art juga diharapkan dapat memperluas cara publik mengenal sejarah Malang, termasuk perjuangan Hamid Rusdi dan kaitannya dengan Bahasa Walikan.

“Jadi eksplorasi baru dalam museum ini semoga bisa berdampak pada kunjungan wisatawan,” pungkasnya.

Source link