Jakarta, CNBC Indonesia- Memasuki pertengahan tahun 2022, sektor manufaktur di Indonesia, khususnya tekstil, semakin terbebani oleh sejumlah faktor, mulai dari pelemahan nilai tukar Rupiah, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia, hingga gangguan rantai pasok global dan kenaikan harga energi. Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, mengungkapkan bahwa situasi ini membuat bisnis tekstil di Tanah Air semakin terjepit.
Biaya Bahan Baku Naik hingga 40%
Salah satu dampak dari kenaikan harga energi adalah naiknya biaya bahan baku hingga 40%. Hal ini menyebabkan pabrik tekstil di Indonesia terpaksa harus memangkas utilisasi dalam proses produksinya. Selain itu, ketersediaan bahan baku yang semakin sulit akibat gangguan rantai pasok global turut memperparah kondisi ini. Rupiah yang terus melemah juga ikut memengaruhi kondisi bisnis tekstil, karena sebagian besar bahan baku produk petrokimia harus diimpor.
Masalah Cashflow di Industri Tekstil
Redma Gita Wirawasta menjelaskan bahwa pelemahan Rupiah dan kenaikan harga bahan baku tekstil telah menggerus cashflow perusahaan tekstil di Indonesia. Dengan biaya produksi yang semakin tinggi, disertai dengan pandemi yang belum kunjung usai, memaksa pelaku bisnis tekstil untuk menemukan strategi yang tepat agar bisa bertahan di tengah situasi yang tidak mudah ini.
Dialog antara Bunga Cinka dengan Ketua Umum APSyFI, Redma Gita Wirawasta, di CNBC Indonesia memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi bisnis tekstil saat ini. Ketidakpastian di pasar global turut menjadi faktor yang memperumit situasi bagi pelaku bisnis tekstil di Tanah Air.
