JAKARTA – Baim Wong kembali ke dunia akting layar lebar dengan warna baru dalam film drama keluarga “Suamiku Lukaku”. Baim tidak hanya berperan sebagai pemeran utama, tetapi juga memilih karakter yang berbeda dari citra dirinya selama ini dengan memainkan peran Irfan, seorang suami yang penuh tekanan emosional dan melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap istrinya, Amina yang diperankan oleh Acha Septriasa.
Keputusan Baim memilih peran ini membuatnya terkejut. Setelah menjadi lebih aktif sebagai seorang sutradara, tawaran untuk film tentang KDRT ini terasa berbeda dari proyek sebelumnya. Meskipun ragu, Baim melihat adanya pesan sosial penting yang ingin disampaikan melalui film ini, terutama mengenai luka yang sering tersembunyi di balik rumah tangga yang terlihat harmonis dari luar.
Tantangan dalam Membangun Karakter dan Emosi
Berperan sebagai Irfan bukan hanya tantangan dalam membangun karakter, tetapi juga dalam menghadirkan adegan emosional yang tetap terasa nyata namun tetap aman bagi para pemain. Proses blocking dan improvisasi menjadi bagian penting selama syuting berlangsung. Dalam beberapa adegan penting, Baim bahkan tidak memberi petunjuk kepada Acha mengenai responsnya agar ekspresi yang muncul terlihat lebih natural di depan kamera.
Salah satu adegan yang membekas baginya adalah ketika ia melakukan improvisasi dalam adegan penuh tekanan emosional. Reaksi spontan Acha setelah pengambilan gambar selesai menjadi indikator kesuksesan tensi adegan yang dibangun dengan kuat.
Chemistry Lama yang Membantu
Kedekatan personal antara Baim Wong dan Acha Septriasa ternyata membantu dalam proses pendalaman karakter. Pertemanan mereka yang sudah lama membuat mereka lebih mudah membangun chemistry selama proses produksi. Obrolan mereka di luar syuting menjadi ruang untuk menyamakan emosi dan memahami karakter masing-masing.
Acha pun melihat transformasi Baim dalam film ini. Menurutnya, Baim berhasil melepaskan karakter pribadinya dan tampil lebih matang sebagai aktor. Keberanian Baim untuk mencoba zona baru menjadi nilai tambah yang membuat film semakin hidup dan emosional.
“Suamiku Lukaku” bukan hanya sekadar drama keluarga tentang konflik rumah tangga, tetapi juga mengangkat realitas sosial tentang kekerasan domestik yang sering tersembunyi. Film ini diharapkan membuka ruang diskusi lebih luas mengenai keberanian bersuara dan pentingnya membangun lingkungan keluarga yang sehat serta saling menghargai.
