Perang AS-Iran Picu Krisis Energi Global

by -66 Views

Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran, serta penutupan Selat Hormuz, telah menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, berdasarkan data dari Badan Energi Internasional (IEA) dan Departemen Energi AS seperti yang dilaporkan oleh Reuters. Krisis ini disebut oleh IEA sebagai yang paling parah, terutama ketika dikombinasikan dengan krisis gas di Eropa akibat invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.

Bandingkan dengan guncangan energi di masa lalu, konflik saat ini tidak hanya mempengaruhi minyak mentah, tetapi juga gas alam, bahan bakar olahan, dan pupuk. Hal ini menunjukkan kerentanan baru akibat permintaan energi global yang meningkat dan semakin rumitnya sistem perdagangan.

Data IEA mencatat bahwa kehilangan pasokan dalam krisis saat ini mencapai lebih dari 12 juta barel per hari, yang setara dengan sekitar 11,5% dari permintaan global minyak tahun ini. Angka ini jauh lebih tinggi dari krisis-krisis sebelumnya, seperti embargo minyak Arab 1973-1974, Revolusi Iran 1978-1979, dan Perang Teluk 1991.

Tidak hanya minyak, konflik ini juga mempengaruhi produksi gas alam cair (LNG) global dari Qatar. Gangguan ini juga menyebabkan kelangkaan bahan bakar jet dan diesel di banyak wilayah. Reuters memperkirakan bahwa dalam 52 hari konflik, total kehilangan pasokan mencapai 624 juta barel.

Perbandingan dengan sejarah menunjukkan bahwa Revolusi Iran 1978-1979 memiliki dampak kumulatif yang lebih besar, dengan penurunan produksi rata-rata 3,9 juta barel per hari selama periode 1978 hingga 1981. Negara produsen dengan kapasitas cadangan, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, tidak mampu menutup kekurangan pasokan karena gangguan di Selat Hormuz.

Efek krisis kali ini secara geografis dirasakan terutama di Asia dan Afrika, yang mulai mengalami kekurangan bahan bakar. Sebagai perbandingan, Perang Teluk 1991 dan invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 memiliki kehilangan pasokan yang lebih kecil dibanding krisis saat ini. Konflik saat ini menunjukkan kerentanan dan kompleksitas rantai pasokan energi global yang tidak terjadi sebelumnya.

Source link