Crocodile Tears merupakan film yang disambut baik oleh Yusuf Mahardika dan Zulfa Maharani. Mereka berpendapat bahwa film ini mampu mempersembahkan kisah yang dapat dirasakan oleh banyak orang, terutama mengenai dinamika keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Zulfa, alur cerita dalam film ini sangat mudah dipahami tanpa kehilangan makna yang dalam. Hal ini membuat penonton dapat dengan mudah mengikuti cerita yang disajikan dengan relevan dan membumi.
Yusuf juga memberikan pendapat serupa, bahwa hubungan keluarga yang ditampilkan dalam film tidaklah asing dan sering terjadi di masyarakat sehari-hari. Hal ini membuat penonton dapat merasa terhubung dengan cerita yang disajikan dalam film. Sebelum tayang di bioskop, film ini juga telah ditayangkan di Toronto, Kanada untuk keperluan screening. Sejumlah penonton di sana bahkan mengakui bahwa mereka dapat merelakan karakter dalam film dengan karakter diri mereka sendiri.
Crocodile Tears mengisahkan tentang hubungan antara seorang ibu yang diperankan oleh Marissa Anita dan anaknya Johan yang diperankan oleh Yusuf, yang terganggu dengan kedatangan Arumi yang diperankan oleh Zulfa dalam hubungan mereka. Konflik kompleks mengenai cinta kasih yang berlebihan antara ibu dan anak menjadi fokus utama dalam cerita ini. Johan, yang tumbuh dalam kasih sayang ibunya sejak kecil, harus menghadapi konflik ketika Arumi masuk ke dalam kehidupannya.
Dilema antara cinta dan kewajiban kepada ibunya menjadi pilihan yang sulit bagi Johan, karena selama ini ia merasa harus selalu berjuang untuk ibunya. Keterlibatan Johan sebagai caregiver sejak kecil membuatnya harus memilih di antara cintanya pada Arumi dan loyalitasnya pada ibunya. Crocodile Tears berhasil menggambarkan konflik emosional yang kompleks dalam hubungan keluarga dengan cara yang mendalam dan memberikan pesan yang kuat kepada penonton.
