Pakistan menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah perundingan guna mengakhiri konflik terkait Iran. Meskipun ketegangan meningkat setelah Teheran menuduh Amerika Serikat mempertimbangkan serangan darat sambil membuka peluang negosiasi. Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyatakan bahwa negaranya sedang mempersiapkan “pembicaraan bermakna” dalam beberapa hari ke depan setelah pertemuan para menteri luar negeri kawasan. Diskusi ini mencakup kemungkinan mengakhiri perang secara cepat dan permanen, serta peluang pembicaraan langsung antara Washington dan Teheran di Islamabad. Dar mengungkapkan Pakistan merasa terhormat menjadi tuan rumah dan memfasilitasi pembicaraan antara kedua pihak untuk penyelesaian komprehensif dan langgeng dari konflik yang sedang berlangsung.
Belum jelas apakah AS dan Iran sudah menyetujui kehadiran mereka. Departemen Luar Negeri AS dan Gedung Putih belum memberikan tanggapan terkait rencana pembicaraan tersebut. Upaya Pakistan dihadapkan pada tantangan besar karena posisi keras yang diambil oleh AS, Israel, dan Iran mengenai syarat penghentian konflik. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menuduh Washington telah mengirim pesan tentang kemungkinan negosiasi sekaligus merencanakan pengiriman pasukan. Dia menegaskan bahwa Teheran siap merespons jika tentara AS benar-benar dikerahkan. Sumber yang mengetahui pembicaraan menyebut diskusi awal antara Pakistan, Arab Saudi, Turki, dan Mesir juga berfokus pada proposal untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran. Blockade yang dilakukan Iran terhadap pengiriman minyak dan gas melalui selat tersebut sejak serangan AS-Israel pada 28 Februari disebut memicu tekanan ekonomi global dengan gangguan pasokan energi mulai dirasakan di berbagai negara.
