Side Job di Korea Selatan: Solusi Saat Satu Gaji Tak Cukup

by -121 Views

Berkembangnya biaya hidup tanpa diimbangi dengan kenaikan gaji telah membuat banyak generasi muda di Korea Selatan terjebak dalam pola kerja yang tak kunjung henti. Dulu, satu pekerjaan dianggap cukup untuk mencukupi kebutuhan hidup. Namun, kini anak muda seperti Kim dan Lee harus membagi waktunya antara pekerjaan utama dan pekerjaan sampingan demi mengais rezeki tambahan.

Kim, seorang karyawan pemasaran berusia 30 tahun di Seoul, mengajar bahasa Inggris setelah jam kerja utama usainya. Dengan pendapatan sekitar 3 juta won ($ 2.074) dari pekerjaan utamanya, dia merasa tidak akan pernah bisa memenuhi impian membeli rumah atau mendirikan keluarga. Demikian pula, Lee, 32 tahun, yang bekerja di bidang penjualan, harus mengelola produk kecantikan Korea di Amazon setelah jam kerja.

Fenomena ini merefleksikan realitas baru pekerja muda di Korea Selatan yang memiliki side job atau disebut N-jobbers. Hampir setengah dari pekerja di Korea memiliki pekerjaan sampingan, terutama yang berusia 20-an dan 30-an. Namun, data resmi mungkin meremehkan angka sebenarnya, karena banyak pekerja enggan melaporkan pekerjaan tambahan mereka ke perusahaan.

Seiring dengan peningkatan jumlah pekerja sampingan, beragam peluang muncul untuk menghasilkan pendapatan tambahan. Mulai dari pekerjaan sementara hingga produksi konten online seperti YouTube dan blog. Namun, dampak negatifnya juga terlihat, di mana pekerja muda terkadang harus bekerja lebih dari 58 jam per minggu, menyebabkan risiko kelelahan kronis dan penurunan produktivitas.

Perubahan pandangan generasi muda terhadap karier dan upaya mencari stabilitas finansial di luar pekerjaan utama menjadi faktor utama di balik tren pekerjaan sampingan ini. Meskipun memberikan pengalaman baru dan pengetahuan yang lebih luas, tetap ada risiko yang harus dihadapi oleh N-jobbers, seperti kelelahan kronis dan tekanan ekonomi yang berkepanjangan.

Source link