Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa dengan diresmikannya Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada Senin kemarin, Indonesia akan menjadi mandiri dalam penyediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) terutama solar. Selain itu, RDMP Balikpapan juga akan meningkatkan produksi bensin dengan nilai oktan 92, 95, dan 98 untuk memenuhi kebutuhan BBM di Tanah Air.
Bahlil mencatat bahwa kilang minyak tersebut dapat menghemat devisa negara hingga Rp 60 triliun dengan mengurangi impor BBM Solar. Dia juga menegaskan bahwa impor solar ke depan akan dihilangkan karena kebutuhan dalam negeri telah dapat tercukupi dengan adanya program B40-B50.
Tak hanya itu, PT Pertamina selaku pemilik RDMP Balikpapan juga akan meningkatkan produksi bensin RON 92, 95, dan 98 untuk memastikan kemandirian energi nasional. Selain solar dan bensin, pemerintah juga membidik swasembada avtur pada tahun 2027 dengan skema impor minyak mentah untuk diolah di dalam negeri.
Meskipun kebijakan ini berpotensi memicu reaksi di media sosial, Bahlil siap menghadapinya dan yakin bahwa langkah ini akan memberikan manfaat jangka panjang bagi keberlanjutan energi Indonesia. Proyek RDMP Balikpapan sendiri memakan investasi sebesar US$ 7,4 miliar dengan peningkatan kapasitas pengolahan minyak mentah dari 260.000 bph menjadi 360.000 bph per hari. Tindakan ini juga sesuai dengan amanah UUD 1945 Pasal 33 tentang penguasaan dan pemanfaatan sumber daya alam yang harus diutamakan oleh negara.
