Cara Putin Dapat Dukungan Pengusaha: Mantan Miliarder Rusia Berbicara

by -57 Views

Jumlah miliarder di Rusia mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah di tengah perang Ukraina. Namun, dibalik itu, orang super kaya di Rusia ini kehilangan suara politiknya. Para oligarki yang dulu sangat berpengaruh diam-diam kini menjadi pendukung Kremlin. Sanksi barat yang diharapkan melemahkan dukungan elit ekonomi justru gagal membuat para miliarder menjadi oposisi. Melalui tekanan keras dan imbalan ekonomi, Putin berhasil memastikan mereka tetap berada di barisan pemerintah. Mantan miliarder perbankan Oleg Tinkov, tahu bagaimana Putin bekerja. Sehari setelah dia mengkritik perang itu adalah “gila”, lewat unggahan Instagram, para eksekutifnya dihubungi oleh Kremlin. Mereka diberi tahu bahwa Tinkoff Bank, bank terbesar kedua di Rusia saat itu akan dinasionalisasi kecuali semua hubungan dengan pendirinya diputus. Dalam waktu seminggu, lanjut Tinkov, perusahaan yang terkait dengan Vladimir Potanin, salah satu pebisnis terkaya kelima di Rusia yang memasok nikel untuk jet tempur, mengumumkan bahwa mereka membeli bank itu. Bank itu dijual hanya seharga 3% dari nilai sebenarnya. Pada akhirnya, Tinkov kehilangan hampir US$9 miliar dari kekayaannya dan meninggalkan Rusia. Kondisi ini sangat berbeda dibandingkan sebelum Putin menjadi presiden. Setelah pecahnya Uni Soviet, beberapa orang Rusia menjadi sangat kaya dengan mengambil alih perusahaan besar yang sebelumnya milik negara, serta memanfaatkan peluang kapitalisme yang baru berkembang. Boris Berezovsky, merupakan salah satu oligarki paling kuat yang pernah mengklaim berperan dalam menghantarkan Putin ke kursi presiden pada tahun 2000. Kemudian dia bertahun-tahun meminta maaf atas hak itu. Setelah permintaan maafnya, Berezovsky ditemukan tewas dalam kondisi misterius saat mengasingkan diri di Inggris. Saat itu oligarki Rusia juga dipastikan sudah “mati” dalam hal kekuatan politik. Namun sejak awal masa kekuasaannya, Putin secara sistematis melucuti pengaruh politik para oligarki. Mereka yang melawan garis Kremlin dihukum, seperti Mikhail Khodorkovsky, mantan orang terkaya Rusia yang dipenjara selama 10 tahun setelah mendukung gerakan pro-demokrasi. Putin sempat mengumpulkan orang-orang terkaya Rusia di Kremlin beberapa jam setelah memerintahkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada 24 Februari 2022. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa meski akan memberikan dampak pada kekayaan mereka. “Saya harap dalam kondisi baru ini, kita akan bekerja sama sebaik sebelumnya, dan tetap efektif,” kata Putin. Seorang jurnalis juga menggambarkan para miliarder yang dikumpulkan terlihat pucat dan kurang tidur. Menurut majalah Forbes, dalam setahun hingga April 2022, jumlah mereka turun dari 117 menjadi 83 akibat perang, sanksi, dan melemahnya rubel. Secara kolektif, mereka kehilangan US$263 miliar, atau sekitar 27% kekayaan masing-masing. Namun tahun-tahun berikutnya menunjukkan keuntungan besar bagi mereka yang menjadi bagian dari ekonomi perang Putin. Pengeluaran besar untuk perang mendorong pertumbuhan ekonomi Rusia lebih dari 4% per tahun pada 2023 dan 2024. Ini menguntungkan bahkan bagi miliarder Rusia yang tidak langsung mendapat kontrak pertahanan. Pada 2024, lebih dari setengah miliarder Rusia berperan dalam memasok militer atau mendapat keuntungan dari invasi. Sambil membiarkan para loyalis meraup keuntungan, Putin secara konsisten menghukum mereka yang menolak mengikuti arahnya. Namun sejak invasi hampir semua orang super kaya Rusia tetap diam, dan sedikit yang menentangnya secara publik. Bahkan jika itu dilakukan tak sedikit juga harus meninggalkan negara dan sebagian besar kekayaannya. Upaya sanksi negara barat yang mencoba membuat mereka untuk menjadi oposisi Putin juga gagal. Karena kekayaan mereka tetap ada dan tidak pembangkangan. Giacomo Tognini dari Forbes juga menyebut pada 2024 ada 11 miliarder baru muncul di Rusia dengan cara ini. Caranya dari keluarnya perusahaan asing pasca Invasi dari Rusia menciptakan kekosongan yang dapat diisi oleh pengusaha pro Kremlin. Mereka diberi izin untuk membeli aset menguntungkan dengan harga murah. Sehingga hal itu menciptakan tentara loyalis berpengaruh dan aktif baru.

Source link