Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, memberikan tanggapan terhadap kritik yang muncul terkait keterlambatan distribusi tenda pengungsian di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Ia menjelaskan bahwa tenda-tenda tersebut telah segera dikirim begitu akses darat menuju wilayah terdampak bencana terbuka.
Sebanyak 30 tenda besar dan 1.000 tenda keluarga telah terkirim, dengan jumlah tersebut terus bertambah. Kritik yang muncul sebelumnya mengenai penundaan distribusi tenda-tenda BNPB bukanlah karena alasan politis, tetapi karena kendala akses ke lokasi terdampak bencana. Sebelum jalur darat terbuka, mereka fokus pada pengiriman makanan dan kebutuhan dasar lewat udara karena keterbatasan kapasitas helikopter untuk membawa tenda.
Suharyanto juga menegaskan bahwa ia adalah pejabat pertama yang sampai ke Aceh Tamiang pasca-bencana untuk melakukan pendataan langsung di lapangan. Setelah akses darat terbuka, distribusi bantuan diintensifkan dalam skala besar. BNPB terus mendorong distribusi bantuan secara massif, sambil mengharapkan media memberikan informasi secara objektif dan menghimpun keterangan dari berbagai pihak.
Kepada publik, Suharyanto menambahkan bahwa kritik mereka menjadi dorongan bagi BNPB untuk terus meningkatkan respons dan pelayanan di lapangan. Klarifikasi ini disampaikan dalam tekan meningkatnya sorotan terhadap penanganan bencana di Aceh Tamiang, dengan harapan distribusi bantuan menjadi cepat, merata, dan transparan. BNPB berkomitmen untuk terus memperbaiki sistem logistik dan komunikasi, serta memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi tanpa menunggu momen seremonial atau kunjungan pejabat.
