Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengeluarkan informasi mengenai penyebab terjadinya bencana alam banjir bandang dan longsor di Wilayah Aceh hingga Sumatra. Menurut Plt. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, bencana tersebut dipicu oleh faktor utama berupa curah hujan tinggi hingga ekstrem serta kondisi geomorfologi yang curam. Wilayah-wilayah seperti Humbang Hasudutan, Agam, Mandailing Natal, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara merupakan yang paling rentan terkena bencana tersebut.
Untuk mengurangi risiko bencana, Lana menekankan pentingnya peningkatan kapasitas masyarakat desa rawan bencana melalui identifikasi tanda awal longsor dan jalur evakuasi. Selain itu, pengendalian tata guna lahan juga menjadi langkah penting dalam menurunkan risiko bencana. Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menyampaikan analisis terkait perkembangan Bibit Siklon Tropis 95B yang dapat memicu cuaca ekstrem di wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatera Barat, Riau, dan sekitarnya.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem akibat dampak dari Bibit Siklon 95B. Selain itu, BMKG juga mendeteksi keberadaan Meso Siklon Konvektif Kompleks (MCC) di Samudra Hindia barat Sumatra yang berpotensi memicu bencana susulan, terutama di wilayah Mandailing Natal, Sumatera Utara, dan sebagian wilayah Sumatera Barat. MCC merupakan sistem badai petir berskala besar yang dapat menimbulkan hujan dengan intensitas sangat tinggi, angin kencang, serta hujan es.
