Bulan setelah deklarasi gencatan senjata di Jalur Gaza, suara ledakan masih terdengar hampir setiap hari. Menurut Kantor Media Pemerintah di Gaza, Israel melanggar kesepakatan sebanyak 282 kali dalam periode 10 Oktober hingga 10 November. Pelanggaran termasuk pengeboman, penembakan terhadap warga sipil, penyerbuan ke permukiman, penghancuran properti warga, dan penahanan warga Palestina.
Gencatan senjata ini berasal dari proposal 20 poin yang diluncurkan oleh Amerika Serikat pada 29 September. Meskipun kesepakatan tersebut bertujuan untuk menghentikan perang, membebaskan tawanan, dan membuka akses bagi bantuan kemanusiaan, Palestina tidak terlibat dalam pembuatannya. Penandatanganan kesepakatan dilakukan secara simbolis pada 13 Oktober di bawah kepemimpinan Presiden AS Donald Trump.
Selama 31 hari terakhir, Israel terus menyerang Gaza, meninggalkan hanya enam hari tanpa laporan kematian atau cedera. Sejak dimulainya gencatan senjata pada 10 Oktober, 242 warga Palestina telah tewas dan 622 lainnya terluka. Serangan paling mematikan terjadi pada 19 dan 29 Oktober, dengan total korban mencapai 154 orang. Namun, gencatan senjata ini kerap menjadi ambigu tanpa resolusi Dewan Keamanan PBB.
Salah satu poin utama kesepakatan adalah pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza, namun realisasinya jauh dari janji. Inspeksi Israel sering membuat penyaluran bantuan terhambat, dengan hanya setengah dari kebutuhan pangan yang berhasil masuk. Meskipun serangan terus terjadi, sebagian kesepakatan seperti pertukaran tawanan tetap berjalan. Hamas telah membebaskan tawanan Israel dengan imbalan tahanan Palestina yang hilang, sementara Israel telah menyerahkan kembali jenazah warga Palestina.
Situasi konflik di Gaza masih terus berlangsung, dengan serangan yang terus berlangsung meskipun gencatan senjata telah dideklarasikan. Upaya untuk membawa kedamaian dan kemanusiaan ke wilayah tersebut terus berlanjut, meskipun kendala dan tantangan terus menghadang.
