Sejarah G30S PKI: Latar Belakang dan Kronologi

by -188 Views

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau yang lebih dikenal dengan G30S PKI menjadi salah satu titik penting dalam sejarah Indonesia modern. Peristiwa ini bukan hanya sekadar catatan kelam tentang usaha kudeta, tetapi juga meninggalkan dampak politik, sosial, dan budaya yang panjang hingga sekarang. Memahami latar belakang dan kronologi G30S PKI menjadi penting agar generasi saat ini dapat melihat bagaimana dinamika kekuasaan, ideologi, serta konflik pada masa itu membentuk arah perjalanan bangsa Indonesia. Latar belakang pemberontakan G30S PKI erat kaitannya dengan keberadaan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang saat itu menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di tanah air. Menjelang peristiwa kudeta 1965, PKI semakin gencar menggelar propaganda serta mengerahkan massa demi memperbesar pengaruh. Situasi yang memanas tersebut akhirnya memicu reaksi balik dari pihak militer. Namun, Presiden Soekarno turun tangan menengahi sehingga ketegangan bisa mereda sementara. Bersamaan dengan itu, aksi-aksi radikal mulai marak, menyasar pejabat, tentara, tuan tanah, maupun tokoh desa. Para pemimpin PKI tak henti menyerang AD dengan tuduhan sebagai birokrat korup dan kaki tangan kapitalis. Posisi PKI di Jakarta pun semakin kuat. Pada malam 30 September menuju 1 Oktober 1965, pasukan di bawah komando Letkol Untung dari Cakrabirawa bergerak dari markas mereka di Lubang Buaya. Pasukan tersebut dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dengan tugas utama menculik para jenderal. Operasi penumpasan G30S PKI dimulai sore hari pada 1 Oktober 1965. Pasukan RPKAD pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, dibantu satuan Para Kujang/328 Siliwangi serta kavaleri, berhasil merebut kembali gedung RRI pusat dan Kantor Pusat Telekomunikasi tanpa perlawanan berarti. Setelah diketahui bahwa markas utama G30S PKI berada di sekitar Halim Perdanakusuma, pasukan segera bergerak ke sana. Kemudian, pada Minggu 3 Oktober 1965, pasukan RPKAD yang dipimpin Mayor C.I. Santoso menguasai daerah Lubang Buaya. Setelah dilakukan penyelidikan mendalam, akhirnya ditemukan sumur sedalam kurang lebih 12 meter dengan diameter sekitar ¾ meter, tempat jenazah para perwira dimasukkan. Sumur inilah yang kemudian dikenal dengan nama Sumur Lubang Buaya.

Source link