Demo Skandal Korupsi Filipina: Ricuh, Massa vs Polisi

by -248 Views

Kemarahan publik Filipina terhadap skandal proyek fiktif pengendalian banjir yang merugikan negara hingga miliaran dolar AS mencapai puncak pada Minggu (21/9/2025) ketika ribuan orang turun ke jalan. Unjuk rasa yang awalnya damai di ibu kota Manila akhirnya berubah menjadi ricuh setelah terjadi bentrokan antara demonstran muda bertopeng dengan polisi antihuru-hara. Menurut juru bicara kepolisian Mayor Hazel Asilo, sedikitnya 72 orang ditangkap, termasuk 20 anak di bawah umur, dalam dua insiden terpisah.

Bentrokan itu melukai 39 petugas polisi, sementara sebuah truk trailer yang dipakai sebagai barikade dibakar oleh massa. Polisi juga menyemprotkan meriam air, sementara saksi mata melaporkan sejumlah aparat melemparkan batu ke arah demonstran, tuduhan yang dibantah oleh kepolisian.

Pagi hari, aksi besar dimulai secara damai dengan perkiraan 50.000 orang berkumpul di taman kota. Pada sore harinya, ribuan orang melanjutkan protes di jalan utama EDSA, yang menjadi pusat perlawanan People Power pada 1986 yang menggulingkan Ferdinand Marcos Sr. Namun, suasana berubah tegang ketika kelompok muda bertopeng mulai melempari batu dan merusak pos polisi.

Skandal proyek banjir fiktif ini terungkap setelah Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyinggungnya dalam pidato kenegaraan bulan Juli lalu, menyusul serangkaian banjir mematikan di Filipina. Departemen Keuangan Filipina memperkirakan kerugian akibat skandal ini mencapai 118,5 miliar peso atau sekitar US$2 miliar pada 2023-2025. Menurut Greenpeace, kerugian bisa jauh lebih besar, mendekati US$18 miliar atau Rp297 triliun. Kepemilikan sebuah perusahaan konstruksi menuduh hampir 30 anggota parlemen dan pejabat DPWH menerima suap dalam proyek banjir fiktif. Skandal ini juga telah mengguncang lembaga legislatif, dengan mundurnya Ketua DPR Martin Romualdez, sepupu Presiden Marcos, seiring dimulainya penyelidikan.

Source link